Posts

Showing posts from May, 2016

🎹 PIANO DI RUMAH KACA

Sebuah alat pengantar takdir menyendiri di sudut ruang namun sangat jelas dipandang bahkan oleh hati yang terbuang. Lihat di sudut kamar Suaranya memanggil lewat jendela Bening sebening kaca Lantunannya memanggil keluar Piawai menari-nari Mahirnya sekelompok jari Timbul tenggelam Menjemput nada di dasar terdalam  Tekanan demi tekanan Putih dan hitam bergantian Gema mengisi kekosongan Sekokoh rumah kaca digetarkan Lihat di sudut kamar Sosok yang terlihat samar Dentingan lembut membawa cinta Menembus kaca, seperti tak nyata Piano melepas melodinya Sayu memanja pada alunan Rumah kaca di mana pintunya Ada syair yang ingin kuhantarkan Ingin kubacakan, Bersama melodi yang kaumainkan (Medan, 25 Mei 2016)

“Siluet Kopi”

Untuk Valentino Darimana hitam ini menyala? Bukankah sebiji kopi tak bernyawa Hanya kuberi sebutir gula Sebagai tanda yang kubawa Benarlah dia tumbuh di alam terbuka Takkan tidur dan selalu terjaga Untukmu sang penikmat rasa Dan jiwamu yang selalu waspada Tetaplah di sini Sehitam kopi, malam ini sepi Tapi biar aku berbagi Tak apa jika hanya untukmu sendiri Bersediakah kau kutemui Selagi aroma kopi ini belum hilang Bersama penantianku sampai kau datang Dan gelapnya malam mulai mendahului Ini hanya cangkir kecil berisi kopi Tak ada teka-teki kuberi untukmu Hanya saja malam ini kau akan sedikit terlambat untuk bermimpi Karena gelapnya malam tak kuasa menyapamu. Medan, 24 Mei 2016