🌊TENGGELAM

“Kapan aku bisa ke tempat ini.” Disodorkannya sebuah foto, dan aku tahu betul itu pemandangan bawah laut. Terhentak darahku membayangkan kejadian 1 tahun lalu. “Setidaknya laut yang ada di Indonesia, tapi sejernih ini.” Kevin mengamat-amati foto yang dilihatnya di akun media sosial teranyar itu.

Bukan pemandangannya, aku lebih fokus pada dua orang penyelam yang berdiri dengan mantapnya, dan mata mereka terpusat pada kamera. Kuperhatikan dengan seksama, mungkin saja jempol yang mereka acungkan di depan dada bergetar gugup. “Kau mau berdiri di dalam sana seperti mereka?” Dia bisa melihat aku mulai kehilangan kata-kata.

“Tentu. Airnya benar-benar bersih. Pemandangan bawah laut memang indah sekaligus menantang.” Apa maksudnya menantang? Mungkin saat aku masuk ke dalam sana, aku tak akan melihat apa-apa, dan mungkin malah aku yang tidak akan terlihat lagi.

“Iya menantang. Membayangkan kepalaku ada di dalam air saja membuatku gemetar. ”Aku gagal terlihat seolah tertantang dan menyepelekan. Dia tahu aku berusaha mengelak dari hal-hal yang mengingatkanku tentang kejadian itu.

“Kau berlebihan.” Dengan tatapan kesal membenarkan, kuserang ucapannya. “Masih trauma?” Katanya memastikan apakah aku akan menyangkal. Tapi Kevin selalu benar, dan aku juga tidak berniat menyalahkannya.

“Kau yakin ini trauma?” Pertanyaanku terdengar sungguhan, karena aku sendiri tidak yakin. “Aku yang paling kecil di belakang sana, kalau kau bisa lihat.” Giliranku yang menyuguhinya foto di Pantai Pasir Putih. Mudah untuk dikenali, dia tahu itu aku.

“Sesudah kejadian itu?”

“Iya. Di akhir kegiatan.” Kataku sambil menarik foto itu dari tangannya. “Aku sempat ikut bermain tiga dari lima putaran.” Tambahku, mencari alasan bahwa aku memang tidak trauma.

“Tapi kau menangis saat terjatuh dari boat.” Raut wajah sok tahu mulai mencecarku, bukan karena dia benar, lebih kepada rasa malu yang tidak tertahan karena air mata ketakutan memang menetes saat itu.

“Badanku kecil. Pelampung bisa saja membawaku entah kemana. Kakiku, siapa yang tahu ada sesuatu bebahaya di dalam sana yang bisa saja menarikku ke dalam.” Jawabku ketus. Senyum yang tak bisa ditahannya bisa kugambarkan.

“Hmm... kenapa badanmu tak setinggi imajinasimu.” Tangannya begitu ringan mengacak-acak rambutku. “Buktinya kau masih ada di sini sekarang.” Ucapannya terdengar serius.

“Benar.” Suaraku lemah, karena pikiran yang sebenarnya sedang mengulik memori di kepalaku. “Tapi jujur ada rasa takut.” Kataku masih dalam pikiran yang diperdengarkan.

“Apa lagi yang kau takutkan?” Aku tak bisa mendengar suaranya. Mataku terasa panas karena tatapan lembutnya. “Vita yang kutau adalah wanita tangguh.” Tak bisa kutahan aliran darahku melesat. Ternyata itu pandangannya tentangku.

“Entahlah, aku masih selalu ingat kejadian itu setiapkali melihat air yang luas dan dalam.” Tanpa sadar kembali aku membayangkan laut, danau, dan sungai yang dalam dan keruh.

“Kau masih takut.”

“Mungkin.”

“Sekalipun dalam bentuk gambar?” Pertanyaannya seolah menuntut penjelasan.

“Kau tahu aku bisa hanyut hanya dalam khayalan.”

“Aku tahu.” Setelah jawaban itu dia terdiam. Mungkin tidak habis pikir tentang ketakutanku. “Apa sebenarnya yang kau khayalkan?” Kevin terlihat penasaran.

“Aku teringat seramnya berada di dalam sana, saat yang bisa terlihat olehku hanyalah pasir dan entah apalah namanya.” Ucapku sambil membayangkan berada di dalam air danau yang keruh akibat pasir yang melayang di pandangan.

Flash back

“Tidakkah kau takut? Ombak terlihat kuat.” Tanyaku heran kepada Lisa yang berenang dengan beraninya, sementara tak jauh dari tempat kami mandi teman-teman yang lain asik bermain dan berebut pelampung.

“Sebenarnya takut. Makanya aku di sini aja.” Katanya sambil berdiri di dalam air. Aku masih duduk di tepi, memijat-mijat kepalaku dengan busa memenuhi rambut.

“Sini, bantu aku. Aku mau membilas rambutku.”

“Oh, ya.. Aku juga mau membilas rambut.” Jawabku sambil perlahan berjalan ke dalam air meraih salah satu tangan Risti, diikuti dengan Sandra yang meraih tangan satunya.

Risti mulai menghitung sebagai aba-aba. “Satu, dua, tiga.” Serentak kami menyelupkan diri ke dalam air dengan perlahan.

Tapi entah kenapa kami tidak bisa keluar dari air. Pegangan tangan kami terlepas. Kucoba berdiri, tapi pasir yang kupijak, bergerak semakin ke dalam. Aku panik. Satu-satunya yang kupikirkan adalah mengeluarkan kepalaku dari air.

Tidak ada jalan untukku. Hanya ada pasir dan kurasakan gerakan dari teman-temanku yang aku yakin saat itu juga sedang kepanikan. Akhirnya aku menolak semua yang ada di depanku agar aku bisa bergerak ke tepi danau. Aku tak tau siapa yang menolong, tapi kudapati Sandra terlihat syok duduk di tepi danau sekitar tiga meter jauhnya dariku. Tak sempat untuk aku memperdulikan mereka. Perasaanku seolah aku adalah satu-satunya korban yang hampir saja mau mati dan perlu diselamatkan.

Setelah aku merasa sudah tidak di dalam air, aku berbaring telungkup di pasir. Sambil terisak dan batuk - batuk aku mencoba mengendalikan napas yang tidak karuan karena ketakutan. Aku bisa mendengar kepanikan kak Nayla  dan teman-temanku yang lain saat mereka menghampiriku.

“Ayo bersihkan badanmu, kita kembali ke rumah.” Kak Nayla berusaha menenangkan dan mengajakku pulang, sementara aku masih gugup memandangi danau dimana aku hampir mati.

“Aku harus masuk ke air itu lagi kak.” Ucapku lirih, kemudian dengan tertatih aku bejalan dan duduk di dalam air. Aku bisa merasakan guncangan ombak yang tepat di dadaku. “Aku tidak boleh trauma mandi di danau.” Kubasahi wajahku yang lembab oleh air mata.

“Ayo, jangan menangis lagi.” Kak Nayla menuntunku keluar dari air dan aku masih dalam keadaan menangis. “Ayolah, kau harus tenang.” Kata kak Nayla sambil mengarahkanku berjalan di tengah gelapnya malam.

Perlahan kutahan tangisanku agar tidak mengundang perhatian warga yang rumahnya kami lewati. Tapi Elvan yang kebetulan lewat, sempat heran dan merasa ada yang tidak beres. Namun aku tidak memperdulikan dia, hanya terus melangkah menuju rumah, dan dia pun berlalu.

Flashback End

“Bagaimana dengan temanmu yang lain?” Ah ya, aku teringat lagi dengan tawa mereka yang sempat berpikir kami bertiga hanya bercanda. “Katamu kalian bertiga.” Tambah Kevin yang sedari tadi menyimak ceritaku.

“Oh, iya. Risti sempat tidak bisa melihat apa-apa.” Jawabku sambil membayangkan ketakutanku saat Risti duduk di dekat pintu rumah. “Berarti aku salah satu orang yang beruntung bisa bertemu denganmu hari ini.” Katanya mencoba mencairkan suasana.

“Aku lebih beruntung bisa ada sampai saat ini.” Balasku seolah tak mau kalah beruntung. 

“Kau tahu apa yang kupikirkan?”

“Seberuntung itukah aku sampai bisa membaca pikiranmu?”

“Tapi kurasa kau mau tahu.” Ucapnya percaya diri.

“Jangan buang waktu, lebih baik kau bagi untukku.”

“Tentu. Asalkan kau izinkan aku.”

“Izin apa lagi?”

“Membantumu lepas dari trauma masa lalu itu.” Kata-katanya terdengar tulus.

“Aku tidak trauma.” Bantahku ragu, namun tetap terlihat yakin.

“Katakan itu untuk memujiku, setelah misiku berhasil.” Aku gugup mendengar jawabannya. Mungkin Aku akan lepas dari ketakutanku setelah tenggelam di danau, tapi bisa jadi aku malah tenggelam lagi bahkan lebih dalam di tempat lain. Hati pria ini misalnya.***

Comments

Popular posts from this blog

AKU (TAK) BAIK-BAIK SAJA

DANDELI❄N

BERS⏳AP

🌆 SAMBUTAN JAKARTA

JANUAR1 🗓️

“Siluet Kopi”

🗓️ KALEIDOSKOP

ONE DAY 🗓️, ONE GIFT 🎁