🎶HARMONI SUARA AYAH
Siang itu juga Siow mie harus berangkat ke luar negeri karena dia mendapat beasiswa untuk kuliah selama 2 tahun di sana. Beasiswa ini adalah impian Siow mie sejak lama, karena keluarganya tidak mampu membiayai jika dia harus kuliah dengan biaya sendiri. Siow mie tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikanya, karena dia percaya pendidikan adalah jalan untuk dia bisa merubah kehidupan keluarganya.
Perasaan Siow mie campur aduk saat memasuki ruang tunggu pesawat tanpa ditemani Sang Ayah. Dia tidak berharap banyak, meski sebelumnya Sang Ayah sudah berjanji akan pulang lebih awal dari restoran tempatnya bekerja agar bisa mengantarkan Siow mie ke bandara. Membayangkan Sang Ayah yang bisu harus tinggal dan hidup sendirian tanpa dirinya untuk beberapa waktu yang cukup lama membuat Siow mie semakin merasa sedih.
Siow mie yang tengah berjalan melewati pintu pemeriksaan tidak sadar bahwa ternyata Sang Ayah berusaha menyusulnya. Ayah Siow mie berlari sekuat tenaga menuju pintu pemeriksaan di area keberangkatan, berharap Siow mie masih di sana. Namun, Sang Ayah tidak lagi melihat anaknya, karena Sioe mie sudah semakin jauh berjalan memasuki area tunggu pesawat.
Ayah Siow mie semakin panik bercampur sedih mengingat anak kesayangannya yang akan pergi jauh meninggalkannya itu. Sementara dia masih belum juga berhasil menemui anaknya. Ketidakmampuan untuk berbicara membuat Ayah Siow mie sulit untuk memanggil anaknya meski dia tetap berusaha.
Tekadnya yang kuat membuatnya terpikir untuk memainkan harmonika yang biasa dibawanya. Dia yakin penuh bahwa Siow mie bisa mendengar alunan suara harmonika yang dia mainkan. Sang Ayah segera melantunkan melodi yang biasa dia mainkan untuk Siow mie. Melodi yang dia ciptakan sendiri saat menemani anaknya belajar, dan kemudian menjadi lantunan yang biasa dia mainkan untuk menghibur Siow mie saat sedih.
Suara harmonika itu terdengar samar di telinga Siow mie, karena sudah cukup jauh dia berjalan. Tapi Siow mie yang sangat mengenali melodi itu, seketika mampu merasakan kehadiran Sang Ayah. Di tengah waktu keberangkatan yang tinggal beberapa menit, Siow mie segera berlari menuju sumber suara harmonika itu. Di sanalah dia melihat Sang Ayah berdiri melambaikan tangan.
“Papa..!!!” dengan penuh air mata Siow mie memanggil ayahnya, dan mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat dibatasi pintu pemeriksaan penumpang.
“Papa menumpahkan saus. Maafkan Papa, Siow mie. Maaf.” Sang Ayah berusaha menjelaskan alasan keterlambatannya menyusul Siow mie ke bandara. Insiden yang dialaminya di tempat kerja membuatnya tidak bisa pulang tepat waktu sesuai janjinya kepada Siow mie.
“Tidak apa-apa.” Siow mie tidak peduli apapun alasannya, karena melihat ayahnya berada di seberang sana saat itu sudah cukup membuatnya bahagia.
“Kamu baik-baik, ya disana.” isyarat Sang Ayah.
“Baik, Pa. Aku tahu. Papa tenang saja, ya.” Siow mie meyakinkan Ayahnya.
“Papa tahu. Papa sangat senang bisa melihat kamu.” Sang Ayah tidak bisa menyembunyikan betapa dia bahagia karena masih sempat menyusul anaknya Siow mie yang akan segera berangkat. Begitu juga dengan Siow mie yang sangat senang melihat Ayahnya kemudian menyeka air mata yang sedari tadi membasahi wajahnya.
“Oh, tunggu sebentar.” Sang Ayah membungkus harmonika yang tadi dia mainkan dan menyerahkan kepada petugas keamanan di pintu pemeriksaan itu. “Tolong berikan ini pada putriku” katanya dengan bahasa isyarat, dan petugas keamanan itu kemudian memberikan harmonika itu kepada Siow mie.
“Kamu bisa meniup alat musik kalau ada waktu luang.” Kata ayahnya kepada Siow mie.
Siow mie mengangguk dan melambaikan tangan kepada ayahnya, mengisyaratkan bahwa dia harus pergi.
“Baik, tidak apa-apa, anak baik. Sampai jumpa.” Sang Ayah menyambut lambaian tangan Siow mie sembari memohon kepada guru pendamping Siow mie untuk membantu menjaga anaknya.
“Siow mie, kita sudah hampir terlambat.” Guru yang mendampingi Siow mie, mencoba menuntun Siow mie untuk segera bergegas menuju ruang tunggu pesawat.
“Jangan menangis anakku, semua akan baik-baik saja” isyarat Sang Ayah meyakinkan putrinya yang masih terlihat berat langkah untuk meninggalkannya.
Siow mie dan ayahnya kembali saling melambaikan tangan dan dengan penuh haru Siow mie meninggalkan pintu pemeriksaan penumpang dengan menggenggam harmonika pemberian ayahnya. Mungkin hari-harinya di luar negeri tidak akan bisa melihat atau bahkan tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Ayahnya. Namun dengan harmonika itu dia akan tetap bisa merasakan kehadiran Sang Ayah untuk melepas rasa rindunya. Suara dan melodi yang selama ini Sang Ayah perkenalkan dan ajarkan pada Siow mie membuatnya seolah bisa mendengar suara ayahnya.
Mona Pintubatu - Apr 2022
Comments
Post a Comment