Aku takut dipatahkan, sehingga dengan sombong mematahkan orang lain. Tanpa kusadari aku yang ternyata hancur Rapuh yang semula tak kasat mata malah semakin nyata Aku mencoba terlihat baik-baik saja Dalam beberapa waktu singkat aku bisa melaluinya Perlahan kemudian terasa palsu dan mengganggu Seperti ada yang salah dengan diriku Mulai kurasakan sesak di dada Kuraba detak jantung dan nadiku masih senada Tapi sangat menyiksa dan melelahkan Entah dari mana datangnya Tuhan kirimkan seseorang untuk kukuatkan Tersontak aku menyadari bahwa aku sedang butuh teman Menangis tanpa enggan Bercerita tanpa beban Meski berlanjut di malam panjang Selepasnya aku kembali tenang 16-07-2020
“Kapan aku bisa ke tempat ini.” Disodorkannya sebuah foto, dan aku tahu betul itu pemandangan bawah laut. Terhentak darahku membayangkan kejadian 1 tahun lalu. “Setidaknya laut yang ada di Indonesia, tapi sejernih ini.” Kevin mengamat-amati foto yang dilihatnya di akun media sosial teranyar itu. Bukan pemandangannya, aku lebih fokus pada dua orang penyelam yang berdiri dengan mantapnya, dan mata mereka terpusat pada kamera. Kuperhatikan dengan seksama, mungkin saja jempol yang mereka acungkan di depan dada bergetar gugup. “Kau mau berdiri di dalam sana seperti mereka?” Dia bisa melihat aku mulai kehilangan kata-kata. “Tentu. Airnya benar-benar bersih. Pemandangan bawah laut memang indah sekaligus menantang.” Apa maksudnya menantang? Mungkin saat aku masuk ke dalam sana, aku tak akan melihat apa-apa, dan mungkin malah aku yang tidak akan terlihat lagi. “Iya menantang. Membayangkan kepalaku ada di dalam air saja membuatku gemetar. ”Aku gagal terlihat seolah tertantang da...
Hanya bunga kecil Diapit bunga matahari Hanya bunga kecil Diapit ilalang berduri Tanah saja cukup Asal bisa tumbuh berkembang Angin saja cukup Asal bola kapas gugur dan terbang Benih kecil dan ringan Patuh searah angin berjalan Halus tak terdekap Terbang ke setiap penjuru seperti sulap Semilir angin jadi melodi Helai demi helai pun pergi Membentuk keindahan baru Mengelabui rapuhmu Berastagi, September 2018
Sudah kusisakan ruang kecewa Untuk nanti saat keadaan berubah Akan tiada lagi canda tawa Hilang oleh mimpi yang bertuah Memang selayaknya aku bersuka Tapi akan tetap ada setitik luka Pada kaki yang tak bisa melangkah Karena tak ingin melawan arah
---------------------------------- Apa yang kau harap dariku? Setiba kau injakkan kaki, Semua lembab oleh air mata langit soreku Mengguyur deras mewakili tangismu yang tertahan Hanya karena tak ingin terlihat lemah dan mengecewakan Katamu aku bukan pilihan Lalu tidakkah kau lihat dengan siapa kau kini menggantung harapan? Baik, mungkin itu dulu Sebelum kau sadar ternyata kau kalah dengan waktu Bukan bermaksud menuntut Sudah cukup baik kedatanganmu kusambut Aku cuma ingin memberi penawaran Aku punya banyak pelajaran Itupun jika memang pengalaman yang kau inginkan Berkabarlah jika kau berkenan Temui aku segera sehabis malam Jakarta, 06 April 2019 23:44
Ada berapa Januari dalam ceritamu? Dan seperti apa Januari bagimu? Kuharap kita sepakat bahwa Januari itu Bulan Satu Meskipun kelak kita tak bersatu Hmm, maksudku ... Ah, aku terlalu kaku Mungkin karena Januari favoritku segera berlalu Bagaimana denganmu? Mungkinkah kita memuja Januari yang sama Ataukah ada Januari yang membeku dimana kau simpan setumpuk rindu dengan jenama? Aku akan kembali hari rabu Di akhir Januari - tanggal tiga puluh satu Siap untuk mendengar jawabanmu
Untuk Valentino Darimana hitam ini menyala? Bukankah sebiji kopi tak bernyawa Hanya kuberi sebutir gula Sebagai tanda yang kubawa Benarlah dia tumbuh di alam terbuka Takkan tidur dan selalu terjaga Untukmu sang penikmat rasa Dan jiwamu yang selalu waspada Tetaplah di sini Sehitam kopi, malam ini sepi Tapi biar aku berbagi Tak apa jika hanya untukmu sendiri Bersediakah kau kutemui Selagi aroma kopi ini belum hilang Bersama penantianku sampai kau datang Dan gelapnya malam mulai mendahului Ini hanya cangkir kecil berisi kopi Tak ada teka-teki kuberi untukmu Hanya saja malam ini kau akan sedikit terlambat untuk bermimpi Karena gelapnya malam tak kuasa menyapamu. Medan, 24 Mei 2016
Aku tidak tahu dia siapa Tapi aku selalu melihat bayangnya Terpantul lewat bening binar matamu Aku tidak tahu dia siapa Tapi aku selalu gelisah Mengingat dia masih menetap di sana Aku tidak tahu dia siapa Aku cukup tahu diri saja Bahkan jadi setengahnya aku tidak bisa Aku tidak tahu dia siapa Aku juga tidak siap dengan fakta Maka kuurung niat bertanya
Mari kita lihat bagian mana yang masih kau ingat Ada saat kubersuka dimana kau menari tanpa iri Ada waktu ku terluka kau obati tanpa menghakimi Meski ada bagian yang kau terlewat, karena tak semua ceritaku kau dapat Namun hatiku masih hangat mengingat hadirmu selalu di waktu yang tepat Kau tau saat aku menata diri pada bagian2 yang pernah kusesali Kau tau saat aku mencoba banyak hal baru yang dulunya sebatas mimpi Kau tau ku selalu berusaha tetap berdiri disaat aku tak kuat lagi Kau tau ada tangis yang kutahan untuk menenangkan banyak hati Sekarang biar kau pula yg jadi saksi aku ingin mulai beranjak lagi Dan tentang beberapa hal, kita masih perlu berdiskusi. Sampai ketemu nanti, siapkan cerita dan secangkir kopi
Comments
Post a Comment