π Missing U
Hi you,
Can I tell u how did I feel on my last surgery? Aku berusaha memandang moment ini adalah momentku dengan Tuhan, berusaha memandang bahwa siapapun yang pernah hadir dan terlibat adalah salah satu bagian dari cara Tuhan mengasihiku.
Tapi dengan kesadaran penuh saat di ruang transit sebelum masuk kamar operasi, aku memikirkan Tuhan dan kamu. Aku sama sekali gak bisa lupa setiamu mengikuti perkembanganku waktu itu, menghabiskan waktumu untuk menemani aku, sendirimu ikut mengantarku untuk operasi kedua kali, sendirimu tak pernah ragu untuk datang ke perawatanku, kesigapanmu menjemputku waktu ngedrop di pinggir jalan, selalu setia menemani malam-malamku dan mau mengusahakan apapun demi kenyamananku.
Memoriku berputar kembali ke moment operasi yang ketiga, dimana aku juga melaluinya sendiri dan disitu aku harus menerima keputusan besar yang kau ambil untuk kelanjutan hidupmu, yang tentu berpengaruh besar untuk kisah kita. Tapi kau masih ada, kasihmu masih kurasa, pagi-pagi benar dengan menahan kantuk kau sudah tiba di depanku, menenangkanku dengan genggaman tangan dan kecupan hangat di keningku lalu menghantarku pulang sebelum kau melanjutkan aktifitasmu.
Ah, bagaimana bisa aku membencimu kini, di tengah sakitnya perpisahan yang dari awal kuprediksi, aku masih bisa mengenang hangatnya perlakuanmu selama kita bersahabat hingga kita semakin dekat. Di ruang transit operasi yang dingin itu, seketika aku sadar, sekuat apapun aku berusaha melupakanmu, mengikhlaskanmu, faktanya aku masih sangat menyayangimu.
Dalam kesendirianku melalui proses operasi keempat ini, aku masih selalu memikirkanmu, membayangkan hadirmu, seolah kau masih ada di sampingku, menemaniku sampai waktunya tidur, memaksaku untuk memejamkan mata di saat aku masih ingin menatap tulusnya wajahmu, masih ingin mengelus rambutmu, masih ingin mengenggam tanganmu.
Lalu dadaku seketika sesak, membayangkan semuanya itu tinggal hayalanku. Sekarang sudah bukan aku, bahkan aku tak tau entah masih ada semua kenangan itu di etalase memorimu. Bagaimana kini kau memandang semua hal tentangku, di saat ada dia yang kini jadi pemilik hatimu. Sakitnya hatiku membayangkan kau reka ulang setiap memori kita, tapi bersama sosok yang berbeda, aku bahkan tidak siap untuk melihat postingan mesramu dengannya di hari kasih sayang besok, sementara aku tidak berhak untuk membencimu karena itu.
Ah, pada akhirnya aku hanya bisa menenangkan diriku, "Sudahi, Na. Dia sudah menemukan bahagianya bersama pasangan seimannya. Pernah bersama atau tidaknya, sakit ini memang akan kau rasa, tapi setidaknya kau masih sempat punya kenangan bersama. Belajar untuk merasa cukup, ya π«"
Roh Kudus kemudian mengajakku kembali memandang KasihNya, kembali mengimani bahwa kau adalah satu dari berjuta kebaikan yang Dia ijinkan di hidupku dan kebaikan lain masih akan senantiasa Dia nyatakan seiring berjalannya waktu. Ya, Hanya itu penghiburanku. π€
Comments
Post a Comment