🌬️ LET'S MOVING (M)ON🍃
Tepat enam bulan sejak kamu pindah. Sudah enam bulan pula kita berpisah. Mungkin bagimu enam bulan bukan waktu yang singkat, tapi bagiku enam bulan masih terlalu cepat untuk menarik kembali hatiku dari semua hal tentangmu. Meskipun aku tetap berusaha mengikhlaskanmu, aku tahu jauh di alam bawah sadarku aku masih menjaga hatiku untukmu. Masih selalu kurawat kenangan-kenangan manis kita waktu itu.
Ntah untuk apa lagi aku juga tidak tahu.
Bahkan, setelah patah hati yang begitu hebat dua bulan lalu, aku masih tenggelam dalam rindu, sementara kau sudah dengan bangganya memamerkan pencapaianmu, bahwa kau sudah temukan penjaga hatimu yang baru.
Kau berhasil, berhasil buatku cemburu, biarpun aku tahu bukan itu tujuanmu, hanya aku yang masih berpikir kau milikku. Untungnya aku punya sedikit akal sehat yang tersisa di tengah depresi yang kuderita, aku mulai menata kembali hatiku yang mana aku percaya bahwa progress baikmu, akan jadi progress yang baik juga untukku, walau ternyata tidak semudah ucapanku malam itu.
Rasa cemburu masih menguasai hati dan pikiranku, padahal aku tahu aku tidak berhak untuk itu. Selalu kubawa kau di dalam doaku, sebagai satu-satunya caraku mengelola sendiri semua bentuk rindu, karena aku mulai takut mengganggu.
Pertanyaan demi pertanyaan tidak bisa lagi kuelakkan, sebab aku hanya sendirian, sementara setiap bahasan tentangmu selalu mengundang sedih dan menyakitkan. Puji Tuhan, kondisi fisikku semakin membaik, dan aku bersyukur pada Tuhan untuk itu. Tinggallah risalah hati ini yang masih menjadi beban utamaku. Setiap hari aku masih selalu memikirkanmu, merindukanmu, dan satu-satunya obat rinduku adalah kenangan manis kita yang dulu.
Sekitarku menawarkan kehadiran orang baru, tapi hatiku masih saja mencarimu di setiap orang baru yang kutemui. Parahnya lagi, ada sisi dalam diriku yang tak nyaman untuk membuka hati pada orang lain seolah aku tidak ingin menghianati kamu. Padahal kau sudah semakin jatuh cinta bukan pada kekasih cantikmu yang seiman itu?
Hanya saja, beberapa hari ini aku sedikit memaksa diri untuk melihat kembali alasan kita tidak bisa saling memiliki adalah karena iman, yang artinya tidak satu pun di antara kita yang mau mengalah, tidak pula aku. Perenungan membawaku membuka mata hati, bahwa tanpa sadar pilihanku juga menyakitkan untukmu. Sama seperti kau yang ternyata lebih mencintai kekasih seimanmu, ternyata aku pun sama, sedalam apapun juga aku mengasihimu, lebih dalam dari itu aku mengasihi Tuhanku. Maafkan aku yang selalu merasa paling tersakiti, padahal memang pain tolerance-ku aja yang rendah soal hati.
Maka aku berharap kiranya ini tangisan sedihku yang terakhir tentang kisah kita. Kuharap hatiku yang masih selalu mengasihimu ini semakin kuat dan ikhlas untuk menyimpan setiap kenangan manis kita di etalase terbaik yang kupunya. Agar aku tak perlu sering-sering berkunjung untuk merawat dan memastikan kenangan itu tetap utuh seperti yang selama enam bulan ini kulakukan. Kalaupun di masa depan aku ingin kembali melihatnya, kuharap etalase yang baik itu akan menyajikan kenangan manis yang hanya akan menorehkan senyum di wajah penuh syukurku.
Tidak pernah sekalipun aku membencimu, kau pun kuharap tidak menilai yang buruk tentangku -sepenting itu bagiku penilaianmu- jika aku lebih memilih Tuhanku dan semua hal baik yang sudah Dia sediakan untukku. Kuharap kau turut berbahagia melihatku mampu bergerak tanpa bayang-bayangmu lagi. Bukan karena aku tidak mengasihimu. Aku masih sangat sangat sangat mengasihimu, karena bagaimanapun kau tetap sahabat bagiku, dan kutahu kau juga pasti setuju bahwa aku harus beranjak maju.
Maka tetaplah jadi sahabatku meski semua bentuk interaksi sepertinya bahaya untukmu dan membuatmu tidak nyaman, setidaknya jadikan aku sahabat di dalam doamu. Doakan aku dengan caramu, seperti aku yang juga selalu mendoakanmu dengan caraku. ✝️☪️
Aku yang mengasihimu
-MP-
![]() |

Comments
Post a Comment